Morowali Utara – Banjir yang melanda akses jalan penghubung Desa Mohoni dan Desa Bimor Jaya, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Memasuki hari ketiga, genangan air masih menutup sejumlah titik ruas jalan utama.
Luapan air berasal dari Sungai Tambalako yang meluap akibat intensitas curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat badan jalan tergenang dan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Selain menghambat aktivitas masyarakat, banjir juga merendam ratusan pohon kelapa sawit milik warga di sekitar bantaran sungai. Kerugian ekonomi pun mulai dirasakan petani akibat tanaman yang terendam cukup lama.
Warga menilai, selain faktor hujan, penyempitan alur Sungai Tambalako akibat tumpukan sisa material pertambangan menjadi penyebab utama banjir semakin parah. Material tersebut menghambat aliran air sehingga mudah meluap ke permukaan jalan.
Masyarakat Desa Bimor Jaya terpaksa mengambil jalur alternatif dengan jarak tempuh yang jauh untuk melakukan aktivitas harian, termasuk ke pasar dan fasilitas kesehatan. Kondisi ini sangat menyulitkan, terutama bagi pelajar dan pekerja.
Yanwerta Lapalesa, warga Desa Mohoni, meminta pemerintah daerah segera turun tangan menangani persoalan tersebut. Ia berharap dilakukan normalisasi sungai agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Menurut warga, ketinggian air di beberapa titik bervariasi, mulai dari sekitar 40 sentimeter hingga mencapai 1 meter. Kondisi ini sangat berbahaya jika dipaksakan untuk dilalui kendaraan.
Banjir diketahui mulai terjadi sejak Rabu (11/2/2026) dan hingga kini belum ada upaya penanganan serius di lapangan. Warga hanya mengandalkan cuaca untuk berharap air segera surut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan langkah konkret, baik normalisasi sungai maupun pengawasan aktivitas pertambangan, agar akses vital antar desa tidak terus terputus setiap kali hujan deras melanda. JEM











